My Photo

July 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31    

Categories

Dear Friends

I was move my blog from,

http://setetes-embun.blogs.friendster.com/setetesembun/

to

http://angin-pagi.blogspot.com/

thx 4 ur attention

                            

JUST CHECK BEFORE FORWARD !

Hari itu ... ketika kubuka email, ada sebuah cerita yang memberi inspirasi mengenai sejarah berdirinya Standford University. Isinya seperti ini

Harga Sebuah Baju

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang
berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan
berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University.

Sesampainya disana sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan
bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada
urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

"Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard", kata sang pria lembut.
"Beliau hari ini sibuk," sahut sang Sekretaris cepat.
"Kami akan menunggu," jawab sang Wanita.

Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa
pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi
nyatanya tidak.

Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk
melaporkan kepada sang pemimpinnya.

"Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan
pergi," katanya pada sang Pimpinan Harvard.
Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang
sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka.

Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan
pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul.
Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.

Sang wanita berkata padanya, "Kami memiliki seorang putra yang kuliah
tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di
sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami
ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini.
bolehkah?" tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia
tampak terkejut. "Nyonya," katanya dengan kasar, "Kita tidak bisa
mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal.
Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan."

"Oh, bukan," Sang wanita menjelaskan dengan cepat,
"Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan
sebuah gedung untuk Harvard."

Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju
pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, "Sebuah
gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung? Kalian perlu
memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard."

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang.
Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang.

Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, "Kalau hanya
sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita
buat sendiri saja ?"

Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan
kebingungan. Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi,
melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka
mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah
peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.

Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu
universitas favorit kelas atas di AS.

Pesan Moral :
Kita, seperti pimpinan Harvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai.
Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat
tak ternilai. Jadi, janganlah kita selalu abai, karena baju-baju, acap
menipu.


Setelah membaca kisah tersebut, biasanya sebelum memfordward sesuatu aku cek terlebih dahulu berita tersebut tapi kala itu  langsung saja ku forrward email tersebut ke salah satu milis untuk berbagi inspirasi tanpa di cek terlebih dahulu. Untuk detik itu aku lupa tentang keharusan mengecek suatu berita sebelum disebarkan,

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (Qs.Al Hujuraat (49):6)


 

astagfirullahaladziim....

Maka benar saja, tak lama kemudian muncul email balasan yang mempertanyakan validitas dari kisah tersebut. Akhirnya dengan usaha keras aku cari sumber berita tersebut, sekaligus untuk mempertanggung jawabkan apa yang ku sampaikan.
Setelah cukup lama akhirnya kutemukan jawabannya:

setelah dicek ternyata cerita ini hoax lho alias cerita palsu.
Betul Lelan Stanford dan Jane Stanford punya anak laki2 yang meninggal saat masih remaja namanya Lelan Stanford Jr. Tapi dia meninggalnya bukan karena kecelakaan melainkan karena sakit typhoid sewaktu bepergian ke Italia. Dan juga nggak ada hubungannya sama Harvard sama sekali.
Lihat di:
http://www.americanleasing.com/resources/virus/virus_info19.html
Terus lihat juga di
http://www.stanfordalumni.org/news/magazine/2003/julaug/features/junior.html


Semoga dengan ini kita dapat mengambil pelajaran yang berharga. Hidup ini terlalu singkat untuk mengalami segala sesuatu dan mengambil pelajaran darinya, maka cukuplah kita belajar dari pengalaman  dan kesalahan orang lain.

Semoga kita dijauhkan dari golongan orang-orang yang berdusta

"..dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. " (Qs.Al Hajj(22):30)

HATI-HATI MENCACI ORANG

"Dasar Jelek Lu!"
"Kerdil Lu!"
"Dasar Item!"
"Cina Sialan lu"
"Udah kerdil, Pesek, Item, idup lagi!"
"Anj*** lu!"


Mungkin kita sering mendengar kata-kata tersebut terlontar dari lidah ketika kita menunggu angkot di terminal. Atau ketika berpapasan dengan seseorang yang sedang beradu mulut (bukan ciuman!). Atau bahkan keluar dari mulut saudara atau teman dekat kita.

Pernahkah kita berpikir bagaimana emosi dan perasaan seseorang ketika melontarkan kata-kata tersebut. Marah? Bercanda? atau Biasa-biasa saja? Lalu pernahkah kita berpikir bagaimana emosi dan perasaan orang yang dilontari kata-kata tersebut. Marah?Dendam?atau biasa-biasa saja?

Terlepas dari itu semua sadarkah kita kalau yang menjadi bahan ejekan itu adalah ciptaan Allah. Wajah yang jelek, Tubuh yang kerdil, hidung yang pesek.....semua itu Allah yang menciptakan. Dialah yang menciptakan seseorang berwajah tampan atau jelek, berbangsa Indonesia atu Cina, Perempuan atau Laki-Laki, sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dan dibalik hal tersebut ada hikmah tersendiri, karena tidaklah Dia menciptakan sesuatu dengan sia-sia.

"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. " "(Qs.Ali 'Imraan(3):191)

Menghina ciptaan-Nya sama artinya menghina Nya.  Maka berhati-hatilah sebelum menghina seseorang, karena belum tentu yang menghina lebih baik daripada yang dihina.

Cukuplah kita mempertimbangkan keridhaan-Nya sebelum kata-kata tersebut terlontar dari lidah yang tak bertulang ini.

TIDAK ADA KEBETULAN DALAM HIDUP INI

"EEEh...Kebetulan kita ketemu disini !" mungkin kalimat itulah yang akan kita dengar ketika bertemu dengan seorang teman lama yang secara tidak sengaja bertemu di suatu tempat. Atau mungkin kita pernah mendengar cerita teman kita ada saat mengalami sesuatu yang tidak diduganya,"Pas gua butuh duit, kebetulan paman gua datang dan ngasih segepok duit buat gua", dan masih banyak lagi kebetulan-kebetulan yang lainnya yang secara sengaja ataupun tidak menghiasi kata-kata yang mengalir lancar dari mulut kita atau orang lain.


Tapi tepatkah kata-kata "kebetulan" itu terucap  dari mulut ini, benarkah semua yang terjadi secara tak terduga dan tak disengaja ini adalah proses kebetulan belaka?


Tidak Saudaraku...

Sebagai seorang muslim tidak ada sesuatu di dunia ini yang terjadi secara kebetulan, sekecil apapun, ya .. sekecil apapun. Bahkan daun kering yang terjatuh dari tangkainya yang sudah menua adalah kehendak sang pencipta.

 

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh  sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (Qs.Al An'aam:59)


Dia yang menjadikan segala sesuatunya terjadi. Maka tidak ada sesuatu apapun yang terjadi di dunia ini tercipta dengan sia-sia. Percayalah selalu ada pancaran hikmah dibalik perisriwa-peristiwa yang menghiasi hidup ini laksana alira-aliran sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Dan muaranya ada pada diri kita, mampukah kita menampung aliran-aliran hikmah tersebut?

 

Saudaraku...
Sudah selayaknya kita lebih banyak merenung daripada berkeluhkesah mencerca sesuatu yang telah terjadi.

Atas Taqdir Allah anda membaca ini...bukan kebetulan.

PERJUANGAN ITU DIMULAI DARI SUBUH

Subuh ini, seperti subuh-subuh biasanya, langit masih nampak kelam, bintang pun sudah jarang tampak sinarnya. Ketika mimpi membuai dengan asyiknya, adzan subuh memaksa jiwa yang berkehendak untuk terjaga.

 

Disinilah awal dari perjuangan itu.

 

Perjuangan pertama adalah memutus belenggu syetan yang mendekap erat jiwa dan menahannya di alam mimpi. Alhamdulillah ikatan-ikatan syetan dengan mudah diputuskan, maklum tadi malam tidur lebih cepat dari biasanya. Untuk melepas ikatan yang terakhir aku bergegas pergi untuk mengambil air wudhu dan bersiap menjejakan kaki ini menuju masjid.

Tapi perjuangan itu tidak berhenti sampai disini...

Masih ada benteng-benteng yang harus dilalui. Benteng dalam arti fisiknya, Tembok Pagar di depan Kosan. Maklum biasanya gembok pagar kosan masih belum dibuka, penjaganya masih berasyik masyuk dengan mimpinya. Dengan menyiapkan fisik dan mental aku berjalan menuju benteng itu. Kutatap sekilas ujung dari benteng tersebut. Kuayunkan tangan ku untuk meraih puncaknya. Dan.... Huuuuuup.... aku meloncat ke puncak tersebut. Sejenak aku merasa bahwa rintangan kedua sudah aku lewati sampai aku sadar bahwa tepat di bawah benteng itu terparkir sebuah mobil sedan milik salah satu penghuni kosan. Sambil menghela nafas panjang kuambil  ancang ancang ... dan ...Huuuuuuuups!  untuk kedua kalinya aku meloncat dari atas benteng melalui badan mobil dibawahku dan mendarat dengan mulus disamping sedan yang membeku dihembus dinginnya angin malam. Sayup-sayup suara iqamah sudah dikumandangkan, bergegas kulangkahkan kaki menuju masjid yang tak jauh dari tempat berdiriku tadi.

Sambil berjalan, ada perasaan lega dalam batinku, akhirnya aku bisa melalui rintangan-rintangan fisik yang menghadang  di depanku. Tapi aku menyadari bahwa rintangan yang paling utama dan pertama adalah rintangan yang menghadang di dalam hati. Pilihan untuk bangun atau tetap di alam mimpi adalah rintangan yang paling utama, bagaimana hati memutuskan antara kedua pilihan itu mencerminkan sejauh mana tekad kita untuk menyambut hari ini dengan energi positif.

Keluhan tidak harus ada di dalam batin ini, apalagi sampai terucap oleh lidah yang kadang kelu. Karena perjuangan untuk mencapai ridha-Nya, sekecil apapun, akan bernilai disisi-Nya asal tidak dikotori oleh keluh kesah dan kesombongan yang akan membakar habis sisa-sisa kebaikan didalamnya.

"Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar"(Qs.An Nisaa'(4):40)


Subhanallah..

Akhirnya, hari-hariku harus kulalui dengan perjuangan sejak mulai membuka mata. Benteng-benteng yang menghadang di hatiku dan yang berdiri dengan mantap di depan Kosan ku harus selalu kuloncati.

Setiap subuhnya....
Ya.. Setiap subuhnya....